Tue. Oct 4th, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Bayang-Bayang Ngeri Pengungsi Rohingya Usai Kudeta Militer Myanmar

2 min read

Dhaka –

Kudeta Myanmar membuat gejolak dan ketakutan masyarakat meningkat. Tak hanya yang berada di Myanmar, sejumlah pengungsi Rohingya yang kini ditampung di Bangladesh juga merasakan hal yang sama.

Para pengungsi Myanmar ikut mengutuk kudeta yang dilakukan oleh militer, namun mereka juga mengaku semakin takut dan khawatir soal nasib mereka jika harus kembali ke Myanmar saat militer berkuasa.

“Militer membunuh kami, memperkosa saudara perempuan dan ibu kami, membakar desa kami. Bagaimana mungkin kami tetap aman di bawah kendali mereka?” kata Khin Maung, kepala Asosiasi Pemuda Rohingya di kamp-kamp di distrik Cox’s Bazar.

“Setiap repatriasi damai akan sangat berpengaruh. Ini akan memakan waktu lama karena situasi politik di Myanmar sekarang lebih buruk,” katanya seperti dilansir The Associated Press, Rabu (3/2/2021).

Bangladesh telah menampung mereka di kamp-kamp pengungsian dan ingin mengirim mereka kembali ke Myanmar. Sejumlah upaya repatriasi di bawah kesepakatan bersama gagal karena Rohingya menolak untuk pergi, dengan kebanyakan merasa takut akan lebih banyak kekerasan di negara yang menyangkal hak-hak dasar mereka termasuk status kewarganegaraan.Pada tahun 2017, terjadi operasi kontra-pemberontakan oleh militer Myanmar, termasuk pemerkosaan massal, pembunuhan, dan pembakaran desa. Hal itu mendorong lebih dari 700.000 Muslim Rohingya mengungsi ke negara tetangga Bangladesh.

Para pejabat dari Myanmar dan Bangladesh bertemu bulan lalu untuk membahas cara-cara memulai repatriasi. Kementerian Luar Negeri Bangladesh dan pejabat Myanmar berharap repatriasi dapat dimulai sekitar bulan Juni mendatang.

Dalam tanggapan mereka, para pengungsi Rohingya sangat menentang pengambilalihan militer.

“Kami mengutuk keras kudeta itu. Kami mencintai demokrasi dan hak asasi manusia, jadi kami khawatir itu hilang di negara kami,” kata Maung.

“Kami adalah bagian dari Myanmar, jadi kami merasakan hal yang sama seperti rakyat Myanmar pada umumnya. Kami mendesak masyarakat internasional untuk bersuara menentang kudeta,” katanya.

Baca juga !