Sun. Sep 25th, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Filipina Negara Terdekat Sudah Gunakan Sistem e-Voting Pemilu, Ini 4 Negara Lainnya

3 min read

Jakarta – Sistem e-Voting atau electronic voting merupakan metode yang dipakai untuk mencatat, menghitung, dan memproses suara yang masuk dalam sebuah pemilihan menggunakan perangkat elektronik. Faktanya, metode pemilihan seperti ini sudah mulai digunakan di beberapa negara luar Indonesia.

Berbagai negara tersebut tentu mengaplikasikan e-Voting karena memiliki banyak manfaat. Disebutkan juga manfaat dalam jurnal berjudul E-Voting: Kebutuhan vs. Kesiapan (Menyongsong) E-Demokrasi, yang salah satunya adalah lebih hemat biaya karena dapat memotong pengeluaran sumber daya. Selain itu, dalam pemilu saat penghitungan suara dan pemrosesan akan lebih tepat dan rinci.

Pemilu 5 Negara dengan e-Voting

Lantas negara mana sajakah yang telah menggunakan metode e-Voting ini? Berikut adalah lima negara di antaranya, sebagai berikut:

India

Di India ada banyak masalah ketika melakukan pemungutan suara. Salah satunya adalah kecurangan seperti adanya surat suara palsu dan harga yang memakan banyak biaya. Hal ini meendorong Komisi Pemilihan untuk merancang e-Voting dalam suatu mesin atau EVM.

Dalam jurnal berjudul Policing Elections in India tahun 2007, menyebutkan inovasi ini dirancang langsung oleh Electronic Corporation of India yang bekerja sama langsung dengan Komisi Pemilihan. E-Voting ini dinilai lebih mudah dioperasikan, lebih sederhana, dan tidak rentang untuk dimanipulasi. Selain itu, sudah diatur dalam jangka waktu tertentu.

Meskipun dilakukan secara bertahap, namun sudah mulai membaik pada pemilihan nasional dan majelis pada 2004. Saat itu, hampir 1,075 juta EVM telah digunakan. Lalu Komisi di negara ini juga telah membuat keputusan kebijakan untuk menyebarkan pemungutan suara selama beberapa hari.

Brasil

Selanjutnya yang telah memakai e-Voting ialah negara Brazil. Metode ini mulai diperkenalkan pertama kali sejak tahun 1996, tepatnya ketika dicoba di Negara Bagian Santa Catarina. Berdasarkan jurnal berjudul Prospek dan Tantangan Penerapan E-voting di Indonesia, metode ini mulai secara formal pada tahun 2002, dengan menyebarkan sebanyak 400 ribu mesin e-Voting di seluruh wilayah Brazil. Hal yang terasa ketika mulai dilakukan sistem ini salah satunya dapat mengetahui hasil lebih cepat dalam hitungan menit.

Estonia

Dalam jurnal berjudul The Development of Remote E-Voting around the World: A Review of Roads and Directions yang terbit pada 2022, Estonia telah menawarkan metode pemungutan suara memakai e-Voting pertama yang mengikat secara hukum pada Oktober 2005.

Lalu mulailah berskala nasional pada 3 Maret 2007. Pemilu tersebut dilakukan selama dua hari dam terhitung sebanyak 30.275 orang yang menggunakan hak pilih melalui Internet. Kemudian lanjut di tahun-tahun berikutnya dengan pengguna yang lebih banyak, seperti di tahun 2009, 2011, dan seterusnya.

Prancis

Pada Januari 2007, Partai Union for a Popular Movement (UMP) telah menyellenggarakan pemilihan presiden melalui metode e-Voting, serta 750 TPS yang menyediakan layar sentuh. Sebanyak 230.000 suara telah masuk yang mewakili 70 persen dari daftar pemilih.

Sebelumnya, Pemilu dengan cara e-Voting telah dilakukan pertama kali pada 2003. Hal ini membantu warga Prancis yang berdomisili di luar negeri untuk mudah mengikuti pemilihan. Lebih dari 60 persen pemilih menggunakan haknya melalui Internet dan bukan menggunakan pemilihan berbasis kertas.

Filipina

Pada 2010, Filipina telah menyelenggarakan pemilu berbasis elektronik pada pertama kalinya. Jenis e-Voting yang digunakan di negeri ini adalah optical scan voting system. Pemerintah telah mengucurkan dana sebesar US$ 160 juta untuk membiayai sistemnya, termasuk pengadaan EVMs, printer, server, genset, kartu memori, baterai, dan peralatan transmisi satelit.

Namun saat pelaksanaannya tak seindah ekspektasi, dilaporkan bahwa ketika pre-test mesin ini mengalami kegagalan dalam kartu memorinya, yaitu hampir sebanyak 76.000 dari total 82.000 mesin scan optic. Lalu ketika dicoba kembali pada Mei 2010, KPU Filipina melaporkan bahwa hanya 400 dari 82.000 mesin e-Voting yang tidak berfungsi. Kebanyakan pemilih mengeluhkan panjangnya antrean dan butuh waktu lama untuk mempelajari teknologi baru.

Baca juga !