Wed. Oct 5th, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Indef Meramal Pemulihan Ekonomi Semester Kedua 2022 Bisa Tertunda

2 min read

JAKARTA. Ekonomi Indonesia pada tahun ini menghadapi tantangan baru. Tren pemulihan ekonomi yang ditunjukkan pada awal 2022 dihadapkan pada peningkatan risiko global yang menjalar ke domestik sehingga berpotensi menahan laju pemulihan ekonomi.

Instititue for Development of Economics and Finance (Indef) meramal pemulihan ekonomi pada semester kedua 2022 berpotensi tertunda akibat eskalasi konflik global yang tidak kunjung berakhir. Pemulihan ekonomi yang sedang berjalan menghadapi tantangan risiko global yang menjalar ke domestik pada semester kedua 2022.

Berdasarkan Kajian Tengah Tahun Indef 2022, ketegangan politik akibat invasi Rusia ke Ukraina juga berdampak cepat dalam mendisrupsi sisi suplai dan mengganggu rantai pasok global. Alhasil, hal ini mendorong peningkatan inflasi global dan lonjakan harga komoditas pangan serta energi.

Sementara di sisi domestik, masalah klasik masih terus menghampiri sendi-sendi ekonomi bangsa mulai masalah lonjakan harga pangan dan energi, dilema fiskal dan moneter, hingga masih lemahnya produktivitas perekonomian. Di tengah pengendalian covid-19 yang membaik, optimisme terhadap pemulihan dan akselerasi ekonomi pun meningkat.

Namun seiring dengan eskalasi tantangan ekonomi global yang dipicu invasi Rusia terhadap Ukraina, Bank Dunia memangkas pertumbuhan ekonomi global dari 4,1% menjadi 2,9%.

“Revisi ini tentunya mempertimbangkan perkembangan ekonomi pada emerging markets termasuk Indonesia,” ungkap Indef dalam keterangan resmi Kajian Tengah Tahun (KTT) Indef 2022, Minggu (10/7).

Indef menilai, inflasi tinggi sepanjang semester pertama 2022 yang menyentuh 4,35% yoy pada Juni 2022 berpotensi menghambat pemulihan daya beli yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi. Hal ini diperkuat dengan terjadinya tren penurunan upah riil buruh sepanjang semester pertama 2022.

“Meskipun secara nominal upah meningkat tapi inflasi yang terlalu tinggi menyebabkan pendapatan riil tergerus cukup dalam,” imbuh Indef.

Dari sisi eksternal, inflasi yang sangat tinggi mencapai 8% di Amerika Serikat (AS) memaksa kenaikan suku bunga dan berdampak terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Hingga pertengahan 2022, The Fed telah menaikkan tingkat suku bunga acuannya ke level 1,75%. Kenaikan ini tentu akan membawa pengaruh besar terhadap kondisi keuangan global termasuk kondisi pasar keuangan dan arus modal ke Indonesia.

Sementara dari sisi produksi, Indef melihat, terjadi tren penurunan Purchasing Managers’ Indes (PMI) Manufaktur Indonesia dari S&P Global sepanjang semester pertama 2022. Indeks yang terus mengalami penurunan dari 53,7 pada Januari 2022 dan sudah menyentuh 50,2 pada Juni 2022 diperkirakan membuat Prompt Manufacturing Index pada triwulan II 2022 dari Bank Indonesia (BI) melambat.

Tidak hanya itu, yang membuat pemulihan domestik tertunda pada semester kedua 2022 adalah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Hal tersebut menurut Indef, berimplikasi terhadap meningkatnya biaya impor.

“Dalam kondisi ketergantungan terhadap barang modal dan bahan baku impor, maka hal ini akan memengaruhi struktur biaya pada sektor riil sehingga kenaikan harga barang tidak dapat dihindari,” tulis Indef.

Baca juga !