Tue. Oct 4th, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Kala Puan Maharani Terseret Heboh Natalius Pigai

3 min read

Jakarta – Cuitan kontroversial mantan Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Natalius Pigai, tak hanya menyeret nama-nama yang disebutkan. Nama tokoh yang tidak disebutkan pun ikut terseret. Siapa dia?
‘Orang kedua’ di tubuh PDI Perjuangan (PDIP), namun bukan struktural, Puan Maharani, ikut dibawa-bawa ke pusaran cuitan kontroversi Pigai di Twitter. Dalam cuitannya, Pigai menuduh Joko Widodo (Jokowi) dan Ganjar Pranowo rasis.

Tudingan ini dilontarkan Pigai melalui akun Twitter-nya, @NataliusPigai2. Pigai menuding Presiden Jokowi dan Ganjar merampok kekayaan Papua.

“Jgn percaya org Jawa Tengah Jokowi & Ganjar. Mrk merampok kekayaan kita, mereka bunuh rakyat papua, injak2 harga diri bangsa Papua dgn kata2 rendahan Rasis, monyet & sampah. Kami bukan rendahan. kita lawan ketidakadilan sampai titik darah penghabisan. Sy Penentang Ketidakadilan).” demikian cuitan Pigai, seperti dilihat, Sabtu (2/10/2021).

Natalius Pigai (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Namun Pigai merasa cuitannya itu tidak rasis. Dia hanya merasa berbicara dua oknum yang berasal dari Jawa Tengah (Jateng).

“Itu tidak ada rasis itu. Itu hanya dua oknum yang namanya Jokowi dengan Ganjar, itu tidak ada rasis,” kata Pigai saat dihubungi, Sabtu (2/10).

“Ke siapa rasisnya? Mereka berasa dari Jawa Tengah itu aksioma. Matahari terbit dari timur itu aksioma. Jokowi dengan Ganjar dari Jawa Tengah itu aksioma. Nggak ada rasis di situ,” sambungnya.

Cuitan Pigai itu dikaitkan dengan Puan dengan beredarnya pesan gambar di WhatsApp (WA). Baca di halaman berikutnya.

Dalam pesan tersebut Puan dituding menggunakan jasa Pigai untuk menghancurkan Ganjar dan Jawa Tengah (Jateng). Pesan gambar bertuliskan, ‘Pigai Sengaja Digunakan Oleh Puan Untuk Menghancurkan Ganjar dan Jateng’.

Pesannya mulai dikirim melalui WA, Sabtu (2/10/2021). Tudingan itu memancing ‘serdadu’ PDIP.

Elite PDIP Nyatakan Fitnah!
Elite PDIP Hendrawan Supratikno awalnya menanggapi pesan gambar tersebut dengan sindiran.

“Apa perlu ditanggapi? Apakah kita mau diperbodoh, dianggap bodoh, atau menyebar virus kebodohan? Apakah kebodohan pantas diberi tempat dalam orkestrasi kita membangun etika demokrasi dan peradaban bangsa yang lebih maju?” kata Hendrawan kepada wartawan, Minggu (3/10/2021).

Hendrawan menyebut dalam menyongsong demokrasi Indonesia yang lebih baik, selalu ada pihak yang bertolak belakang dengan menebar fitnah. Pimpinan Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI itu mengingatkan, jangan menghabiskan energi untuk politik adu domba.

“Dalam gerak kita ke masa depan, selalu ada kelompok orang yang ingin melakukan pendangkalan akal budi. Pencerahan berusaha ditutup-tutupi dengan kabut fitnah dan selubung kebencian. Kita didorong berkutat dalam lembah kelam yang dikuasai nafsu-nafsu primitif pra-demokrasi,” sebut Hendrawan.

“Ini zaman demokrasi, Bung. Jangan menghabiskan energi dan konsentrasi untuk menonton palagan devide et impera (politik adu domba)!” tegasnya.

Hendrawan kemudian menyinggung paragraf pertama Mars PDIP. Ketua Bidang Perekonomian DPP PDIP 2015-2020 itu menegaskan bahwa PDIP tetap kompak.

“Paragraf pertama mars kami, ‘atas kasih dan kehendak Yang Maha Pencipta, kita telah sepakat bersatu, bersatu dalam satu rampak barisan, menentang kemiskinan’. Jadi kami tetap dalam satu barisan,” ucapnya.

Anggota DPR dapil Jawa Tengah X itu bahkan turut mengkritik Natalius Pigai. Hendrawan menilai pernyataan Pigai tentang orang Jateng tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

“Soal Natalius Pigai, mantan anggota Komnas HAM, pandangannya terhadap orang Jateng, selain peyoratif dan diskriminatif, jelas-jelas tak sesuai dengan esensi dasar nilai-nilai kemanusiaan. Begitu cepat ia melupakan habitat profesinya,” tutur Hendrawan.

Baca juga !