Mon. Oct 3rd, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Konvoi Militer Myanmar di Yangon Diserang Bom, Berujung Baku Tembak

2 min read

Yangon –

Konvoi pasukan militer Myanmar di Khayan, pinggiran Yangon diserang bom. Serangan tersebut berujung pada baku tembak antar kelompok anti-junta dan militer hingga menyebabkan korban jiwa.

Seperti dilansir AFP, Minggu (19/9/2021) sejak Februari lalu, Myanmar berada dalam kekacauan politik pasca junta menggulingkan pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi. Kudeta tersebut memicu protes dan tindakan kekerasan oleh militer.

Sejumlah kotapraja di seluruh Myanmar membentuk kelompok yang disebut “pasukan pertahanan rakyat” untuk melawan balik melawan junta. Bentrok pun juga tak terelakkan terjadi di sejumlah daerah pedesaan.

Insiden serangan bom terjadi pada Jumat (17/9) lalu saat pasukan keamanan sedang melakukan perjalanan melalui Khayan, pinggiran pusat komersial Yangon. Dalam pernyataannya Sabtu (18/9) lalu, junta menyebut mereka seketika diserang dengan bom rakitan.

“Kedua kelompok itu saling menembak — seorang anggota pasukan keamanan terluka,” demikian pernyataan junta, seraya menambahkan bahwa pasca bentrokan mereka menyita sejumlah senjata api dan amunisi.

“Beberapa teroris … (terbunuh), salah satunya terluka.” imbuhnya.

Media lokal melaporkan setidaknya dua pemberontak anti-junta tewas dan satu lainnya ditangkap.

Awal bulan ini “Pemerintah Persatuan Nasional” (NUG) yang sebagian besar terdiri dari anggota parlemen yang berafiliasi dengan partai Suu Kyi menyerukan “perang defensif rakyat” dan mendesak warga sipil untuk menargetkan aset-aset militer di daerah junta.

Menara komunikasi milik perusahaan militer, Mytel, juga telah menjadi target penyerangan di seluruh Myanmar. Kini sudah 12 menara yang dihancurkan.

 

Simak juga ‘Oposisi Myanmar Deklarasikan Perang Lawan Junta Militer’:

Konflik juga meningkat di wilayah Sagaing dan Magway, di mana penduduk setempat pekan ini menuduh militer membakar rumah dan membuat ribuan orang mengungsi.

“Militer telah menghancurkan wilayah kami karena pasukan perlawanan lokal,” kata seorang wanita berusia 25 tahun dari kotapraja Gangaw Magway kepada AFP.

“Saya kehilangan beberapa teman saya… Saya patah hati karena saya telah menyaksikan semua kekejaman mereka dengan mata kepala sendiri.” lanjutnya.Penduduk kotapraja Gangaw lainnya mengatakan di salah satu desanya yang paling parah terkena dampak, Namg Kar, sejumlah rumah telah diratakan sejak 10 September lalu. Proses tersebut berhenti selama seminggu terakhir karena hujan monsun terus memadamkan api.

“Mereka mencoba membakar seluruh desa. Tapi saat itu musim hujan,” kata warga tersebut, seraya menambahkan bahwa 4.000 warga Namg Kar telah mengungsi ke hutan terdekat.

Baca juga !