Sat. Jan 28th, 2023

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Kubu Moeldoko: Semasa SBY Jadi Presiden, Paham Radikal Tumbuh Subur

3 min read

Jakarta –

Anak buah Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) heran terhadap Moeldoko yang melontarkan pernyataan soal ideologis menjelang Pemilu 2024 di saat momen bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Kubu Moeldoko kemudian memberi penjelasan.

“Melalui pernyataan terbuka di akun Instagram-nya dan juga bisa dilihat secara terbuka oleh semua pihak termasuk Bapak Presiden Jokowi tentunya, Pak Moeldoko menjelaskan bahwa beliau dipinang oleh kader Demokrat se-Indonesia untuk menyelamatkan Partai Demokrat. Menyelamatkan partai dari pengelolaan sewenang-wenang dan menyelamatkan partai dari penyusupan ideologis radikal yang dapat merusak masa depan demokrasi kita,” kata juru bicara kubu Moeldoko, Muhammad Rahmad, kepada wartawan, Senin (29/3/2021).

Moeldoko merupakan ketua umum terpilih dalam acara yang diklaim sebagai kongres luar biasa (KLB) Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara. Rahmad kemudian menyebut pernyataan Moeldoko menjawab tuduhan dari Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan AHY.

“Juga menjelaskan kepada publik bahwa SBY dan AHY serta pengikutnya yang telah menebar berita tidak benar dan memfitnah Pak Moeldoko. Ini sungguh cara cara radikal, yang sangat bertentangan dengan etika agama dan etika kita berdemokrasi. Kami sangat menyayangkan itu, yang semestinya, tuduhan-tuduhan radikal, fitnah, tidak berdasar seperti itu tidak perlu terjadi. Apalagi tuduhan itu berasal dari seorang mantan Presiden Republik Indonesia,” ujarnya.

Rahmad menuding paham radikal tumbuh sumbur saat era pemerintahan SBY. Paham radikal itu, kata Rahmad, menyuburkan intoleransi hingga penyebaran berita bohong.

“Semasa SBY menjadi Presiden, kita akui bahwa paham radikal tumbuh subur dan seakan akan mendapat tempat di Indonesia. Efek negatifnya kita rasakan sekarang, di mana intoleran berkembang, penyebaran hoax merajalela dan tuduhan-tuduhan dan fitnah menjadi halal dan mudah sekali memutar balikkan fakta. Yang kasihan adalah masyarakat luas yang disuguhi informasi yang menyesatkan,” ucapnya.

Sejumlah organisasi radikal, menurut Rahmad, dibubarkan saat pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun, katanya, organisasi radikal ini mencari tempat berlindung di Partai Demokrat.

“Ketika organisasi-organisasi radikal itu dibubarkan oleh Pemerintahan Presiden Jokowi, kami mendeteksi bahwa mereka mencari tempat berlindung di antara ke dalam Partai Demokrat. Setidaknya, kelompok radikal itu merasa nyaman dengan Partai Demokrat. Apalagi jika dikasih ruang untuk masuk ke dalam legislatif, maka itu akan membahayakan masa depan Indonesia,” sebutnya.

“Oleh karena itulah, Pak Moeldoko bersedia memimpin Partai Demokrat dengan segala risiko yang harus dihadapi,” sambungnya.

Rahmad menilai kubu AHY hanya membela diri soal kelompok radikal berlindung di Partai Demokrat. Kelompok ini, kata Rahmad, nyaman berlindung di balik SBY.

“Jika paham radikal berlindung di dalam Partai Demokrat disebut omong kosong oleh pendukung SBY dan AHY, itu sah-sah saja. Silakan saja. Mereka tentu berusaha membela diri. Yang kita lihat adalah fakta sejarah di mana kelompok radikal saat ini berusaha mencari tempat berlindung dan kelihatannya kelompok radikal itu nyaman berada di belakang bayang-bayang SBY,” ujarnya.

Moeldoko sebelumnya berbicara tarikan ideologis menjelang 2024 di tubuh Demokrat. Partai Demokrat pimpinan Agus Harimurti Yudhoyono heran Moeldoko menyinggung ideologi Demokrat di momen bom bunuh diri di Makassar.

Sekretaris Bappilu Partai Demokrat Kamhar Lakumani menegaskan ideologi Partai Demokrat adalah nasionalis religius yang memperhatikan aspek nasionalisme, humanisme, dan pluralisme dengan tujuan mewujudkan perdamaian, demokrasi, dan kesejahteraan rakyat. Dia menuding Moeldoko tengah mengarahkan opini publik untuk menyerang Demokrat dengan isu ideologi.

“Ada justifikasi yang kuat secara historis dan empiris yang membuat tuduhan ini hanya mungkin dilakukan oleh orang tolol terhadap Partai Demokrat,” imbuh dia.”Moeldoko mencoba cara-cara kotor yang menggunakan buzzer untuk menyerang Partai Demokrat dengan isu ideologi. Penggiringan ini dilakukan secara sistematis namun terbaca dengan jelas, karena mereka memilih sasaran yang salah. Model serupa mungkin efektif pada operasi terhadap ormas keagamaan yang rentan dan sensitif dengan isu ideologi, tapi tak relevan dan anakronis untuk diterapkan pada Partai Demokrat,” kata Kamhar dalam keterangannya, Senin (29/3).

Baca juga !