Fri. Jan 27th, 2023

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Pembangunan sumur resapan di Jakarta ‘timbulkan persoalan baru’

3 min read

Pada akhir November lalu, Gery Kukuh Yudha, 31, menyaksikan lima kecelakaan dalam kurun dua hari. Kecelakaan itu terjadi di jalan raya tepat di depan lokasi dia bekerja sebagai petugas parkir di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Penyebabnya, menurut Gery, adalah sumur resapan yang amblas di salah satu lajur Jalan Karang Tengah Raya. Beberapa pengendara yang mencoba menghindar justru kehilangan keseimbangan hingga terjatuh. Dua insiden itu tidak berujung fatal.

Petugas konstruksi kemudian memperbaiki sumur resapan yang amblas itu, namun untuk mengantisipasi kejadian serupa, warga setempat menaruh pot tanaman sebagai tanda agar pengendara tidak melintasinya. Akibatnya, satu lajur jalan tidak berfungsi sehigga membuat lalu lintas menjadi lebih macet pada jam-jam tertentu.

“Ini memang sudah dicor, tapi takutnya nanti amblas lagi, jatuh lagi. Dari awal ini memang kami halangi untuk mengantisipasi ada yang amblas, jatuh, kecelakaan. Akibatnya bisa fatal,” kata Gery.

Terdapat setidaknya puluhan sumur resapan yang ditanam di median jalan di area ini, beberapa ditempatkan berdekatan. Kehadiran sumur resapan itu juga membuat permukaan aspal menjadi tidak rata.

Berdasarkan keterangan yang tertera di bagian tutupnya, sumur resapan ini termasuk kategori dangkal, dengan kedalaman tiga meter. Perusahaan kontraktornya adalah PT Jaya Beton.

Menurut Gery, sumur resapan itu dibangun sejak bulan lalu. Area ini, kata dia, memang rawan genangan ketika hujan melanda. Sumur resapan ditujukan untuk menjawab persoalan itu.

“Di sini genangannya parah, bisa sebetis, tapi [sejauh ini] belum hujan gede, belum kelihatan masih banjir atau nggak. Mudah-mudahan bisa [mengurangi genangan], kalau nggak buat apa dibangun?” kata Gery.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah membangun setidaknya 16.000 sumur resapan pada tahun ini, namun sebagian di antaranya menuai kritik karena penempatan yang dinilai tidak tepat dan desain teknis yang tidak sesuai standar.

Secara umum, Pemprov menargetkan untuk membangun 1,1 juta sumur resapan hingga 2022 yang bisa menampung dan menyerapkan air sebanyak 11,5 juta meter kubik ke dalam tanah.

Ada beberapa titik sumur resapan lain yang juga menuai kritik. Misalnya, di Jalan Lebak Bulus III yang sempat membuat aspal jalan retak. Selain itu, di area sekitar Banjir Kanal Timur yang merupakan salah satu kanal pengendali banjir di Jakarta.

Sekretaris Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Dudi Gardesi, mengakui adanya kesalahan-kesalahan itu dan kontraktor pelaksana telah ditegur dan dipanggil untuk segera membenahinya.

Terkait titik penempatan sumur resapan yang dikeluhkan karena membahayakan pengendara, Dudi mengatakan Dinas Sumber Daya Air “bukan satu-satunya” yang menggali badan jalan.

“Yang lain pun banyak. PLN, gas, buka juga, Bina Marga juga bikin utilitas di jalan. Intinya, kita bukan pionir pertama. Soal ada ketidaksempurnaan akan kita perbaiki, ini kan masih dalam masa tanggung jawab mereka [kontraktor],” kata Dudi kepada BBC Indonesia.

Bisakah sumur resapan menjawab persoalan di Jakarta?

Menurut Dinas SDA, program pembangunan sumur resapan di Jakarta bertujuan untuk mengatasi genangan air dan menjadi kunci untuk mengantisipasi terjadinya banjir di sejumlah titik yang rutin terdampak.

Sebab, kata Dudi, daya dukung infrastruktur di Jakarta untuk mampu mengatasi ancaman banjir lokal, juga banjir yang datang dari hulu dan arah pesisir sangat terbatas.

“Saluran kita itu banyak keterbatasannya. Kalau harus melebarkan itu tempatnya nggak ada lagi. Ini [sumur resapan] juga sudah teruji juga dengan kita menambah tampungan. Tapi kalau tampungan itu sifatnya harus besar seperti waduk kan nggak mungkin juga,” papar Dudi.

Selain itu, Dudi mengatakan sumur resapan juga dapat menambah cadangan air tanah Jakarta yang telah digunakan secara berlebihan.

Baca juga !