Thu. Sep 29th, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Rektor Universitas Kabul yang Ditunjuk Taliban Larang Wanita Mengajar-Kuliah

2 min read

Kabul – Wanita-wanita di Afghanistan tidak akan lagi diizinkan menghadiri kuliah atau bekerja di Universitas Kabul ‘hingga lingkungan Islami terbentuk’. Larangan ini menjadi langkah terbaru pemerintahan Taliban dalam mengesampingkan perempuan dalam kehidupan publik.
Seperti dilansir CNN, Rabu (29/9/2021), larangan terbaru itu disampaikan rektor baru Universitas Kabul yang ditunjuk oleh kelompok Taliban yang kini berkuasa di Afghanistan.

“Selama lingkungan Islami yang nyata tidak disediakan untuk semua, wanita tidak akan diperbolehkan datang ke universitas atau bekerja. Islam yang utama,” tegas Rektor Universitas Kabul, Mohammad Ashraf Ghairat, dalam pernyataan via akun Twitter resminya.

Pada Senin (27/9) waktu setempat, Ghairat memposting pernyataan dalam bahasa Pashto bahwa pihak universitas tengah menyusun rencana untuk mengakomodasi mengajar para mahasiswi, namun tidak menyebut lebih lanjut kapan rencana ini akan diselesaikan.

“Karena kekurangan dosen perempuan, kami tengah menyusun rencana agar dosen laki-laki bisa mengajar para mahasiswi dari balik tirai di dalam ruang kuliah. Dengan begitu akan tercipta lingkungan Islami bagi para mahasiswi untuk mendapatkan pendidikan,” cetus Ghairat dalam pernyataannya.

Pengangkatan Ghariat sebagai Rektor Universitas Kabul oleh Taliban diwarnai kritikan terkait kurangnya kredensial. Ghairat meresponsnya dengan komentar yang menyatakan dia memandang dirinya sendiri ‘memenuhi syarat untuk memegang jabatan ini’.

Dia juga membeberkan visinya untuk salah satu perguruan tinggi tertua di Afghanistan itu, dengan menyebut tujuan Universitas Kabul adalah menjadi pusat bagi ‘semua Muslim sejati di seluruh dunia untuk berkumpul, meneliti dan belajar’ dan ‘meng-Islam-kan ilmu pengetahuan modern’.

“Saya ada di sini untuk mengumumkan bahwa kita akan menyambut cendekiawan dan mahasiswa pro-Muslim untuk mendapatkan manfaat dari lingkungan Islami yang nyata,” sebutnya.

Taliban yang pernah menguasai Afghanistan dari tahun 1996 hingga 2001 ini, secara historis memperlakukan perempuan sebagai warga kelas dua, menjadikan mereka sasaran kekerasan, pernikahan paksa dan kehadirannya nyaris tak terlihat di negara tersebut.

Setelah menguasai Kabul pada Agustus lalu, kepemimpinan Taliban mengklaim tidak akan menerapkan kembali situasi sarat kekejaman seperti dua dekade lalu.

Namun janji-janji itu tidak ditepati, dengan absennya perwakilan perempuan dari pemerintahan sementara Afghanistan dan perempuan menghilang dari jalanan maupun tempat umum sejak Taliban berkuasa.

Bahkan para petempur Taliban di beberapa wilayah memerintah perempuan meninggalkan tempat kerja mereka dan ketika sekelompok perempuan memprotes pemerintahan yang didominasi laki-laki, petempur Taliban memukuli mereka dengan cambuk dan tongkat.

Sebelumnya, wanita Afghanistan diperbolehkan melanjutkan pendidikan mereka di perguruan tinggi setempat. Namun Taliban mewajibkan pemisahan jenis kelamin di ruang kuliah dan menyatakan para mahasiswi, dosen dan pegawai perempuan wajib memakai hijab sesuai interpretasi Taliban atas syariat Islam.

Baca juga !