Wed. Oct 5th, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Skandal Pemerkosaan Picu Wanita Australia Ramai-ramai Turun ke Jalan

3 min read

Canberra –

Aksi protes di seluruh Australia untuk menentang kekerasan seksual dan ketidaksetaraan gender dilakukan oleh para wanita pada hari Senin (15/3). Aksi serentak itu digaungkan menyusul munculnya berbagai tuduhan pemerkosaan yang telah mengejutkan pemerintah konservatif.

Diketahui aksi dengan sebutan #March4Justice diadakan di lebih dari 40 kota besar dan kecil di Australia, dengan demonstrasi besar-besaran di Canberra menyusul tuduhan pelecehan seksual di parlemen negara tersebut.

Seperti dilansir AFP, Senin (15/3/2021) sebagian besar dari mereka berpakaian hitam dan berkumpul di luar Gedung Parlemen sambil memegang spanduk dengan slogan seperti “Kamu Tidak Mendengarkan”, “Berapa Banyak Korban yang Kamu Kenal?” dan “Saya Mempercayai Dia.”

Diperkirakan 10.000 orang bergabung dalam protes di Melbourne, dengan ribuan orang lainnya di kota-kota besar termasuk Canberra, Sydney dan Brisbane. Beberapa ribu orang juga berunjuk rasa di Perth pada hari Minggu (14/3).

Aksi #March4Justice menuntut serangkaian tindakan termasuk penyelidikan independen atas semua kasus kekerasan gender, dorongan dana publik untuk pencegahan, dan implementasi rekomendasi dari penyelidikan nasional tahun 2020 terhadap pelecehan seksual di tempat kerja.

Pada bulan lalu, mantan staf pemerintah bernama Brittany Higgins mengklaim bahwa dirinya telah diperkosa oleh seorang kolega di kantor menteri pada 2019. Sementara itu, awal bulan ini, Jaksa Agung Christian Porter membantah tuduhan bahwa dia telah memperkosa seorang gadis berusia 16 tahun pada tahun 1988 ketika mereka berdua masih berstatus pelajar.

Higgins mengatakan kepada banyak orang di Canberra bahwa kisahnya adalah “pengingat yang menyakitkan bagi wanita bahwa hal itu dapat terjadi di Gedung Parlemen, dan benar-benar dapat terjadi di mana saja”.

Kontroversi tersebut telah memberikan tekanan yang semakin besar pada Perdana Menteri Scott Morrison. Terlebih saat Morrison mengatakan kepada parlemen, “Tidak jauh dari sini, demo seperti itu, bahkan sekarang, disambut dengan peluru, tetapi tidak di sini, di negara ini” – yang menimbulkan reaksi kesal dari berbagai pihak.

“Perdana menteri berpikir bahwa para wanita harus bersyukur bahwa kami tidak ditembak karena berkumpul untuk keselamatan kami sendiri,” cuit Senator Partai Hijau, Sarah Hanson-Young.

Kemarahan publik terhadap pemerintah Morrison tercermin dalam jajak pendapat terbaru pada Senin (15/3) yang menunjukkan dukungan pemilih telah turun drastis sejak 2019, ketika dia berlibur di Hawaii sementara kebakaran hutan besar-besaran berkobar di Australia.

Pemerintah Australia telah memerintahkan penyelidikan independen terhadap budaya tempat kerja parlemen dan membentuk layanan dukungan staf baru, tetapi para aktivis mengatakan perubahan sistemik diperlukan sekarang – tidak hanya dalam politik tetapi di seluruh masyarakat Australia.

Higgins mengatakan kepada banyak orang di Canberra bahwa kisahnya adalah “pengingat yang menyakitkan bagi wanita bahwa hal itu dapat terjadi di Gedung Parlemen, dan benar-benar dapat terjadi di mana saja”.

Parlemen Australia telah berulang kali dikritik karena budaya tempat kerja yang “toxic” yang diduga telah memicu penindasan, pelecehan, dan serangan seksual yang terus-menerus.

Koalisi yang berkuasa dituduh tidak berbuat cukup untuk mendukung anggota partai perempuan, termasuk setelah serentetan perempuan mundur dari parlemen menjelang pemilu 2019, dengan beberapa pihak mengutip ‘bullying’ sebagai faktor alasannya.

Sekelompok politisi perempuan independen dan dari partai kecil mengumumkan bahwa mereka akan berusaha untuk mengubah “celah” dalam undang-undang yang melindungi anggota parlemen dari tanggung jawab atas pelecehan seksual di tempat kerja.

“Tampaknya gila bahwa kami, pada tahun 2021, harus mengajukan amandemen terhadap undang-undang yang penting untuk memastikan semua tempat kerja di Australia aman, terjamin dan terhormat,” kata anggota parlemen independen, Zali Steggall.

Baca juga !