Thu. Oct 6th, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Soal Reunifikasi Damai, Presiden Taiwan Ogah Tunduk Pada China

2 min read

Taipei – Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, membalas pernyataan China soal reunifikasi damai. Tsai dengan marah menyebut Taiwan tak akan tunduk dengan China.
“Taiwan akan terus memperkuat pertahanannya untuk memastikan tidak ada yang bisa memaksa pulau ini untuk menerima jalan yang telah ditetapkan China, yang tidak menawarkan kebebasan maupun demokrasi,” demikian pernyataan balasan Presiden Tsai Ing-wen untuk China, seperti dilansir Reuters, Minggu (10/10/2021).

Berbicara pada peringatan acara Hari Nasional Taiwan, Tsai mengatakan dia berharap untuk meredakan ketegangan di Selat Taiwan. Dia juga menegaskan Taiwan tidak akan “bertindak gegabah”.

“Tapi seharusnya tidak ada ilusi bahwa rakyat Taiwan akan tunduk pada tekanan,” katanya dalam pidato di luar kantor kepresidenan di pusat Taipei.

“Kami akan terus memperkuat pertahanan nasional kami dan menunjukkan tekad kami untuk membela diri untuk memastikan bahwa tidak ada yang bisa memaksa Taiwan untuk mengambil jalan yang telah ditetapkan China untuk kami,” tambah Tsai.

“Ini karena jalan yang telah ditetapkan China tidak menawarkan cara hidup yang bebas dan demokratis bagi Taiwan, atau kedaulatan bagi 23 juta penduduk kami.” imbuhnya.

Diketahui Taiwan yang memiliki pemerintahan demokratis sendiri berada di bawah tekanan militer dan politik yang semakin meningkat dari China, salah satunya misi angkatan udara China yang berulang di zona identifikasi pertahanan udara Taiwan, yang menjadi perhatian internasional.

China, yang terus menganggap Taiwan sebagai bagian wilayahnya, ingin Taiwan menerima kedaulatannya. Namun otoritas Taiwan berjanji akan mempertahankan kebebasan yang dimilikinya dan menegaskan bahwa hanya warganya yang bisa memutuskan masa depan negara itu.

Pada Sabtu (9/10) lalu, Presiden China, Xi Jinping, berjanji untuk mewujudkan reunifikasi secara damai dengan Taiwan dan tidak secara langsung menyebutkan penggunaan kekuatan. Namun, dia mendapat reaksi marah dari Taipei, yang mengatakan hanya rakyat Taiwan yang bisa menentukan masa depan mereka.

Tsai mengulangi tawaran untuk berbicara dengan China atas dasar kesetaraan. Namun China menolak untuk berurusan dengannya sembari mengatakan Tsai adalah separatis yang menolak untuk mengakui Taiwan adalah bagian dari “satu China”.
“Niat baik Taiwan tidak akan berubah, dan akan melakukan semua yang bisa dilakukan untuk mencegah status quo dengan China diubah secara sepihak,” kata Tsai.

Tsai juga memperingatkan bahwa situasi Taiwan “lebih kompleks daripada di titik lain mana pun dalam 72 tahun terakhir”, dan bahwa kehadiran militer rutin China di zona pertahanan udara Taiwan telah secara serius mempengaruhi keamanan nasional dan keselamatan penerbangan.

Sementara itu, Tsai saat ini tengah mengawasi program modernisasi militer untuk meningkatkan pertahanan dan pencegahannya, termasuk membangun kapal selamnya sendiri.

“Taiwan berdiri di garis depan membela demokrasi,” kata Tsai.

Diketahui Angkatan Udara China melakukan penyusupan selama empat hari berturut-turut ke zona identifikasi pertahanan udara Taiwan sejak 1 Oktober lalu, yang melibatkan 150 jet tempur dan pesawat militer. Xi tidak menyebut aktivitas militer China itu dalam pidatonya.

Taiwan menyebut dirinya sebagai negara merdeka dengan nama resmi Republik China. Disebutkan bahwa Republik China berdiri tahun 1912 dan pemerintahannya kabur ke Taiwan tahun 1049 setelah kalah dalam perang sipil dengan Partai Komunis, yang menguasai Republik Rakyat China sekarang.

Baca juga !