Mon. Oct 3rd, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Ukraina Siap Turuti Rusia di Awal Konflik, tapi Putin Pilih Perang

3 min read

Jakarta – Kepala utusan Rusia untuk berunding dengan Ukraina pernah mengatakan kepada Presiden Vladimir Putin di awal perang bahwa Kyiv siap memenuhi permintaan Moskow untuk tetap berada di luar NATO sebagai syarat dihentikannya serangan.

Namun Putin saat itu menolak dan melanjutkan tindakan militernya, kata tiga orang-orang yang dekat dengan kepemimpinan Rusia seperti disiarkan Reuters, Rabu, 14 September 2022.

Utusan kelahiran Ukraina, Dmitry Kozak, mengatakan kepada Putin bahwa dia yakin kesepakatan yang dia buat menghilangkan kebutuhan Rusia untuk mengejar pendudukan skala besar di Ukraina, menurut sumber-sumber ini.

Putin berulang kali menegaskan sebelum perang bahwa NATO dan infrastruktur militernya merayap lebih dekat ke perbatasan Rusia dengan menerima anggota baru dari Eropa timur, dan bahwa aliansi itu sekarang bersiap memasukkan Ukraina. Putin secara terbuka mengatakan bahwa itu merupakan ancaman eksistensial bagi Rusia, memaksanya untuk bereaksi.

Namun, meskipun sebelumnya mendukung negosiasi, Putin menjelaskan bahwa konsesi yang dinegosiasikan oleh Kozak tidak sesuai harapan, selain ia juga memperluas tujuan serangan yakni pencaplokan wilayah Ukraina, kata sumber tersebut. Hasilnya: kesepakatan dibatalkan.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov membantah pernyataan sumber itu. “Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kenyataan. Tidak ada hal seperti itu yang pernah terjadi. Ini benar-benar informasi yang salah,” katanya kepada Reuters.

Kozak tidak menanggapi permintaan komentar yang dikirim melalui Kremlin.

Mykhailo Podolyak, penasihat presiden Ukraina, mengatakan Rusia telah menggunakan negosiasi sebagai tabir asap untuk mempersiapkan invasi, tetapi dia tidak menanggapi pertanyaan tentang substansi pembicaraan atau mengkonfirmasi bahwa kesepakatan awal telah tercapai.

“Hari ini, kami dengan jelas memahami bahwa pihak Rusia tidak pernah tertarik pada penyelesaian damai,” kata Podolyak.

Dua dari tiga sumber mengatakan dorongan untuk menyelesaikan kesepakatan terjadi segera setelah invasi Rusia pada 24 Februari. Dalam beberapa hari, Kozak yakin dia memiliki kesepakatan Ukraina dengan persyaratan utama yang dicari Rusia dan merekomendasikan kepada Putin agar dia menandatangani kesepakatan, kata sumber tersebut.

“Setelah 24 Februari, Kozak diberi kekuasaan penuh: mereka memberinya lampu hijau; dia mendapatkan kesepakatan. Dia membawanya kembali dan mereka menyuruhnya untuk pergi. Semuanya dibatalkan,” kata salah satu sumber yang dekat dengan kepemimpinan Rusia.

Sumber ketiga – yang diberi tahu tentang peristiwa itu oleh orang-orang yang diberi pengarahan tentang diskusi antara Kozak dan Putin – berbeda pendapat tentang waktunya. Ia mengatakan bahwa Kozak telah mengusulkan kesepakatan itu kepada Putin yang menolaknya, tepat sebelum invasi. Semua sumber meminta anonimitas untuk membagikan informasi internal yang sensitif.

Serangan Moskow di Ukraina adalah kampanye militer terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Ini mendorong sanksi ekonomi besar-besaran terhadap Rusia dan dukungan militer untuk Ukraina dari Washington dan sekutu Baratnya.

Bahkan jika Putin menyetujui rencana Kozak, masih belum pasti apakah perang akan berakhir. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy atau pejabat senior di pemerintahannya tidak diketahui apakah berkomitmen pada kesepakatan itu.

Kozak, 63 tahun, menjadi orang dekat Putin sejak 1990-an di kantor walikota St. Petersburg.

Kozak berada di posisi yang tepat untuk merundingkan kesepakatan damai karena sejak 2020 Putin telah menugaskannya melakukan pembicaraan dengan rekan-rekan Ukraina tentang wilayah Donbas di Ukraina timur, yang telah dikendalikan oleh separatis dukungan Rusia setelah pemberontakan pada tahun 2014.

Setelah memimpin Rusia delegasi dalam pembicaraan dengan pejabat Ukraina di Berlin pada 10 Februari – ditengahi oleh Prancis dan Jerman – Kozak mengatakan pada konferensi pers larut malam bahwa putaran terakhir dari negosiasi tersebut telah berakhir tanpa terobosan.

Kozak juga adalah salah satu dari mereka yang hadir ketika, tiga hari sebelum invasi, Putin mengumpulkan para kepala militer dan keamanannya serta para pembantu utamanya di aula Yekaterinsky Kremlin untuk pertemuan Dewan Keamanan Rusia.

Kamera televisi negara merekam pertemuan itu, di mana Putin menyusun rencana untuk memberikan pengakuan formal kepada entitas separatis di Ukraina timur.

Setelah kamera dibawa keluar dari ruangan, Kozak berbicara menentang Rusia mengambil langkah apa pun untuk meningkatkan situasi dengan Ukraina, kata dua dari tiga orang yang dekat dengan kepemimpinan Rusia, serta orang ketiga yang mengetahui tentang apa yang terjadi dari orang-orang yang ikut serta dalam pertemuan tersebut.

Orang lain yang diwawancarai oleh Reuters, yang membantu dalam pembicaraan pasca-invasi, mengatakan diskusi gagal pada awal Maret ketika para pejabat Ukraina memahami bahwa Putin berkomitmen untuk terus maju dengan serangan skala besar.

Enam bulan sejak dimulainya perang, Kozak tetap menjabat sebagai wakil kepala staf Kremlin. Tapi dia tidak lagi menangani berkas Ukraina, menurut enam sumber yang berbicara kepada Reuters.

“Dari apa yang saya lihat, Kozak tidak terlibat di mana pun,” kata salah satu dari enam orang itu, sumber yang dekat dengan pemimpin separatis di Ukraina timur.

Setelah invasi berlangsung hampir 7 bulan, Rusia belum bisa menaklukkan Kyiv. Bahkan sepekan terakhir, pasukan Ukraina dengan dukungan persenjataan Barat, berhasil merebut kembali sejumlah wilayah dan mendesak Rusia mundur.

Baca juga !