Sat. Oct 1st, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Xiaomi dan Infinix Bertengkar, Ini Kata Pengamat

2 min read

Jakarta –

Country Director Xiaomi Indonesia Alvin Tse menuding postingan Infinix yang mempromosikan Hot 10S sebagai hal menyesatkan. Seharusnya, iklan HP itu seperti apa sih?

detikINET meminta pendapat dari pengamat gadget Lucky Sebastian terkait masalah ini. Menurutnya apa yang dilakukan oleh Infinix dan Xiaomi ini sering dianggap sebagai jenis persaingan yang kelasnya paling bawah, yang seharusnya tidak dilakukan oleh brand.

“Sebenarnya apa yang dilakukan Infinix dan Xiaomi, sering dianggap persaingan level paling bawah yang harusnya tidak dilakukan brand,” pungkasnya.

Menurutnya, komparasi seperti itu seharusnya hanya dilakukan oleh praktisi, bukan oleh brand pembuatnya. Brand itu seharusnya bisa terlihat lebih pintar dalam mengiklankan produknya secara kreatif.

“Bahkan semakin tinggi kreativitas, semakin iklannya saru (tidak terlihat-red), tapi membekas, membuat pemirsa ingin cari tau lebih,” jelas pria asal Bandung ini.

Selain itu tentunya ada iklan Apple, Samsung, dan Microsoft, yang meski juga membandingkan produk kompetitor namun disajikan dengan cara yang lebih elegan sekaligus edukatif untuk penontonnya.Lucky mencontohkan kreativitas dalam beriklan itu dilakukan oleh Google lewat iklan tentang hubungan keluarga, ataupun iklan ecommerce terkait Hari Raya. Menurutnya iklan kreatif seperti itu malah bisa menaikkan ‘nilai’ sebuah brand.

“Memang sebaiknya lebih kreatif itu tidak membandingkan, tetapi berusaha memberitahu pemirsa seberapa baiknya produk yang dipasarkan sekarang, apa yang bisa dilakukan produk itu untuk para pembelinya, sehingga membuatnya tertarik,”

Meski begitu, Lucky tak menampik bahwa tidak semua iklan kreatif semacam ini bisa dimengerti semua kalangan, yang kemudian membuat brand memilih untuk beriklan dengan frontal.

“Ya ada yang bisa ada yang tidak nangkep. Tapi ya harus dimulai, kan iklan tidak harus frontal,” pungkasnya.

Terkait etika periklanan, Lucky pun menyebutkan kalau di Indonesia perbandingan semacam ini memang tak dibolehkan di Indonesia.

“Misal minuman, jumlah lebih banyak, harga lebih murah. Ini langsung menohok dan membuat pengertian langsung kepada konsumen, tapi itu mungkin berlaku di negara lain, misal kita lihat di Amerika (Serikat),” ujar Lucky saat dihubungi detikINET.

Namun etika dan aturan periklanan di Indonesia sebenarnya melarang adanya perbandingan antara satu produk dengan produk kompetitornya.

“Iklan Microsoft vs Apple, Apple vs Samsung, dll, bebas-bebas saja, karena tidak ada peraturan yang melarangnya, dan lawan tinggal memberi tanggapan atau counter attack. Tapi di Indonesia berbeda,” lanjutnya.

Aturan yang dimaksud itu tercantum dalam Tata Krama dan Tata Cara periklanan Indonesia, yang berbunyi: ‘Iklan harus dijiwai oleh asas persaingan yang sehat. Perbandingan tidak langsung harus didasarkan pada kriteria yang tidak menyesatkan konsumen’.

Tidak sepantasnya dilakukan bos besar

Lucky pun mengomentari langkah Alvin, yang merupakan Country Director Xiaomi Indonesia, alias bos besar Xiaomi di Indonesia. Meski sebenarnya ia bisa mengerti alasan Alvin saat memprotes postingan Infinix tersebut, menurutnya hal tersebut tak pantas ia lakukan.

“Sebagai pimpinan paling tinggi, Alvin Tse ini saya mengerti ingin menyelesaikannya segera, karena ia menguasai produk, pengetahuannya sangat bagus, dan orangnya to the point,” jelas Lucky.

“Tapi memang seharusnya sebagai country director, Alvin terlalu tinggi untuk mengomentari hal ini, harusnya menyerahkannya kepada team PR-nya (public relation-red). Tapi ya mungkin itu butuh waktu untuk mendelegasikan dan membahas, mungkin Alvin tidak ingin momennya lewat dan banyak orang terpapar info yang menurutnya tidak benar,” tutup Lucky.